Ketika aku memasuki ruang itu, aku melihat satu pendar bintang di langit-langit kamarmu kawan. Terlihat begitu indah dengan cahayanya yang teramat terang. Membuat seisi ruang kamarmu yang awalnya sangat gelap menjadi penuh dengan cahaya. Aku sudah menduga, setiap waktu kau pasti slalu menjaga dan merawatnya, hingga terlihat betapa indahnya bintang itu.
Sepertinya kau terlihat begitu menyukai satu pendar bintang itu. Dulu kau slalu bersemangat stiap kali mengisahkannya padaku, tentunya sebelum aku melihat dan mengerti apa bagusnya satu pendar bintang yang kau letakkan di langit-langit kamarmu itu. Ternyata setelah aku melihat dan mencoba mengerti, satu pendar bintang itu memang pantas untuk dikagumi.
Aku mengamati satu pendar bintang itu dengan seksama. Ketika aku ingin meraihnya, tanganku terhenti. Aku melihat raut wajahmu kawan. Sepertinya kau sedikit panik, sedikit takut dengan apa yang akan aku lakukan. Aku hanya mencoba mendekatkan tanganku dengan cahayanya. Karna itu kau tak perlu khawatir dengan apa yang akan aku lakukan. Aku tidak akan mengambilnya, aku tidak akan merusak letak bintangmu. Ia akan tetap slalu menjadi milikmu, ia akan tetap slalu menjadi penerang ruang kamarmu.
Kawan, aku bisa merasakan kekhawatiranmu. Kau tak perlu berbohong, tak perlu menyimpan apa yang sedang kau rasakan, tak perlu menutupinya dariku. Jangan seolah-olah merelakan bintang itu untuk kuraih jika memang nyatanya kau tak rela. Kau tak perlu menuliskan kata-kata, "Mengalah untuk Menang" di buku kesayanganmu, karna tanpa mengalahpun kau sudah menang. Bintang itu sepenuhnya milikmu. Aku takkan pernah merebutnya darimu. Saat ini aku hanya butuh kembalinya sebuah rasa kebersamaan yang pernah hilang dalam persahabatan kita. Hanya itu kawan..
17 Maret 2009
Senin, 06 April 2009
Kisah Satu Pendar Bintang..
Diposting oleh Eka Oktaviani di 02.19
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar